K.H. Achmad Mudatsir (Ketua Yayasan As-Salafiyah)

Setiap masyarakat sesungguhnya dibangun oleh dua unsur yang bekerja secara bersamaan. Unsur pertama bersifat “struktural”, yakni seperangkat aturan, tata kelola, dan mekanisme yang mengatur kehidupan bersama. Unsur kedua jauh lebih sunyi, yaitu karakter yang hidup dalam diri orang-orang yang menggerakkan struktur tersebut. Sebaik apa pun sebuah sistem dirancang, ia akan kehilangan daya hidup ketika tidak ditopang oleh karakter yang memadai. Sebaliknya, karakter yang kuat sering kali mampu menghidupkan sistem yang “sederhana”.

Baca Juga : Seleksi Alam dalam Birokrasi: Menuju Tata Kelola yang Beradab

Dalam konteks ini masyarakat pesantren menarik untuk dibaca. Pesantren bukan sekadar ruang berlangsungnya proses pendidikan, melainkan sebuah “ekosistem sosial” tempat nilai, pengetahuan, tradisi, dan relasi antar-manusia saling membentuk. Oleh karena itu, keberlangsungan masyarakat pesantren tidak cukup dijelaskan melalui pendekatan kelembagaan semata. Ia juga harus dipahami sebagai proses pembentukan karakter kolektif yang berlangsung secara terus-menerus.

Sayangnya, dimensi ini banyak luput dari perhatian. Sebagian besar kajian mengenai pesantren bertumpu pada tema leadership, kurikulum, manajemen pendidikan, pengembangan kelembagaan, transformasi sosial, dan transformasi digital. Kajian-kajian tersebut telah memberikan kontribusi yang sangat berarti. Akan tetapi, masih relatif sedikit yang menjadikan “arsitektur karakter kolektif” sebagai fokus utama analisis. Padahal, daya tahan sebuah masyarakat sering kali tidak ditentukan oleh kecanggihan organisasinya, melainkan oleh kualitas watak yang tumbuh sebagai budaya bersama.

العلم يذكي والادب يعلي

“Ilmu memberikan kepandaian, sedangkan tatakrama merupakan tangga kemuliaan.”

Ungkapan ini mengandung sebuah hirarki yang menarik. Ilmu berfungsi mengembangkan kapasitas intelektual manusia; ia mempertajam nalar, memperluas wawasan, dan mempercanggih pembacaan terhadap realitas. Akan tetapi, adab (dalam bahasa Jawa: totokromo)-lah yang menentukan arah dari seluruh kemampuan tersebut. Dengan kata lain, ilmu menjawab pertanyaan bagaimana (how to), sedangkan adab menjawab pertanyaan untuk apa (what for). Ilmu itu lebih mekanik dan metodik, sedangkan adab (ethics) mempertanyakan “kebarokahan dan kemanfaatan” (value and utility). Di sinilah letak perbedaannya. Kepandaian merupakan capaian intelektual, sedangkan kemuliaan merupakan capaian moral.

Apabila adagium tersebut dijadikan postulat, maka membangun masyarakat pesantren tidak cukup dimaknai sebagai upaya memperbanyak orang berilmu. Yang jauh lebih mendasar ialah membangun sebuah “Habitat Moral” yang memungkinkan ilmu dan adab tumbuh secara serempak. Knowledge is power, kata Francis Bacon. Ilmu melahirkan kompetensi, sedangkan adab menjaga agar kompetensi tidak berubah menjadi arogansi, dominasi, atau abuse of power.

Perspektif inilah yang menurut hemat saya dapat diperkaya melalui pembacaan terhadap Pandawa Lima.

Selama ini Pandawa lebih banyak hadir dalam ruang kajian sastra, filsafat Jawa, maupun dunia pedalangan. Pembacaan tersebut tentu memiliki signifikansi tersendiri. Namun, terdapat ruang yang masih terbuka untuk memaknai Pandawa sebagai sebuah “tipologi karakter sosial”. Yang menarik dari Pandawa bukanlah kesaktian (baca: kompetensi) masing-masing tokohnya, melainkan kenyataan bahwa tidak satu pun di antara mereka mewakili seluruh kebajikan. Setiap tokoh membawa satu kekuatan utama, sementara kekuatan itu baru menemukan maknanya ketika bertemu dengan kekuatan atau karakter tokoh yang lain. Dengan demikian, kemenangan Pandawa sesungguhnya merupakan kemenangan “kolaborasi karakter”, bukan kemenangan individual.

Dalam tradisi pedalangan Jawa, Prabu Puntadewa yang berdarah putih menempati posisi sebagai perlambang integritas. Julukan “berdarah putih” tidak dimaksudkan sebagai deskripsi biologis, melainkan metafora tentang kejernihan nurani. Ia memperlihatkan bahwa sebuah leadership memperoleh legitimasi bukan pertama-tama karena kekuasaan, melainkan karena amanah. Bagi masyarakat pesantren, integritas merupakan “modal sosial” yang tidak dapat digantikan oleh kecerdasan ataupun kharisma. Kepercayaan lahir dari konsistensi antara nilai yang diajarkan dan kehidupan yang dijalankan.

Karakter berikutnya hadir melalui Bima, atau yang lebih dikenal dengan nama Ontoseno. Wataknya keras, tetapi bukan kasar; tegas, tetapi bukan sewenang-wenang. Ontoseno memperlihatkan bahwa keberanian moral merupakan syarat bagi tegaknya keadilan. Sebuah komunitas jarang kehilangan arah secara tiba-tiba. Kemunduran biasanya bermula ketika keberanian moral untuk menjaga nilai-nilai bersama perlahan digantikan oleh sikap permisif terhadap penyimpangan. Dalam konteks masyarakat pesantren, keberanian semacam ini bukanlah keberanian menciptakan konflik, melainkan keberanian menjaga marwah nilai ketika nilai tersebut menghadapi ujian.

Watak yang berbeda tampak pada Janaka atau Arjuna. Dalam dunia pedalangan, ia bukan hanya lambang kecakapan, tetapi juga disiplin intelektual. Keunggulannya lahir melalui proses yang panjang, bukan melalui kemudahan. Janaka mengingatkan bahwa tradisi ilmu hanya akan bertahan apabila masyarakat memiliki budaya belajar yang terus diperbarui. Di sinilah ilmu tidak dipahami sebagai akumulasi informasi, melainkan sebagai proses penyempurnaan diri yang berlangsung sepanjang hayat.

Sementara itu, Pinten, atau Nakula, menghadirkan satu dimensi yang sering diabaikan dalam pembahasan mengenai kepemimpinan, yakni pengabdian. Tidak semua kontribusi harus tampil di ruang depan. Ada kerja-kerja yang berlangsung dalam “kesunyian produktif”, tetapi justru menjadi fondasi bagi keberlangsungan kehidupan bersama. Pinten mengajarkan bahwa pelayanan (khidmah) pada ummat Rasulullah bukanlah posisi sosial yang rendah. Sebaliknya, pelayanan merupakan bentuk kedewasaan moral yang lahir dari kemampuan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan individu.

Mozaik tersebut mencapai keseimbangannya melalui Tangsen, atau Sadewa. Ia dikenal tenang, visioner, cermat, teliti, dan memiliki keluasan pandangan. Tangsen memperlihatkan bahwa sebuah masyarakat memerlukan kemampuan untuk melihat melampaui kepentingan sesaat. Visi bukan sekadar kemampuan memprediksi masa depan, melainkan kecakapan menjaga kesinambungan nilai di tengah perubahan zaman. Sebuah komunitas yang kehilangan visi akan mudah terombang-ambing oleh perubahan, sedangkan komunitas yang kehilangan kemampuan beradaptasi akan dilibas oleh perubahan itu sendiri.

Kelima tokoh tersebut menghadirkan satu pelajaran yang sangat mendasar. Sebuah masyarakat tidak dibangun oleh keseragaman karakter, tetapi oleh “orkestrasi kebajikan”. Integritas membutuhkan keberanian agar revolusioner, punya dampak, dan tidak pasif. Keberanian membutuhkan ilmu agar tidak berubah menjadi keberingasan. Ilmu membutuhkan pengabdian supaya bisa bersanding dengan sikap tawadlu’. Pengabdian membutuhkan visi agar tidak kehilangan arah. Hubungan di antara kelimanya bersifat saling menguatkan, bukan saling menggantikan.

Tim Pandawa sesungguhnya tidak sedang mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang sempurna. Mereka justru mengajarkan bahwa kesempurnaan sebuah masyarakat lahir ketika setiap orang menghadirkan kebajikan terbaiknya untuk kepentingan bersama. Prabu Puntadewa yang berdarah putih menjaga amanah, Ontoseno menegakkan keberanian, Kakang Janaka merawat tradisi keilmuan, Pinten menghidupkan pengabdian, dan Tangsen memastikan arah perjalanan tidak kehilangan kebijaksanaan. Ketika orkestrasi watak-watak itu bertemu, yang lahir bukan sekadar organisasi yang tertata, melainkan sebuah “peradaban karakter”.

Di titik inilah masyarakat pesantren menemukan tantangannya. Keberhasilan pesantren tidak semata diukur dari banyaknya lulusan, luasnya jaringan, atau megahnya kelembagaan, melainkan dari kemampuannya melahirkan manusia-manusia yang sanggup mengubah ilmu menjadi kebijaksanaan, amanah menjadi budaya, dan pengabdian menjadi jalan hidup. Sebab, peradaban tidak pernah dibangun hanya oleh orang-orang yang cerdas, tetapi oleh orang-orang yang tahu untuk apa kecerdasannya digunakan.

العلم يذكي والادب يعلي

Selama ilmu masih menjadi cahaya akal dan adab tetap menjadi puncak perjalanan, masyarakat pesantren akan selalu memiliki alasan untuk tetap menjadi “rumah lahirnya manusia berilmu sekaligus bermartabat”.

 

Ahmad Mudatsir

Malang, 11 Juli 2026

Leave a Comment